Inilah Bacaan Niat Puasa Ramadhan Satu Bulan Penuh

Bacaan Niat Puasa Satu Bulan Penuh di Ramadhan – Niat berpuasa selama satu bulan Ramadhan mungkin masih asing bagi sebagian orang. Namun dalam masyarakat Indonesia hal ini merupakan hal yang lumrah dilakukan banyak orang. Niat puasa satu bulan adalah mengumpulkan niat puasa satu bulan di bulan Ramadhan untuk membaca niat di malam pertama Ramadhan. Dengan cara ini, tidak perlu membaca niat besok atau bahkan nanti. Jika lupa membaca niat harian, niat puasa selama satu bulan Ramadhan terkadang dijadikan sebagai langkah preventif. Sebelum berpuasa niat itu sendiri sangatlah penting, niat dapat digunakan untuk membedakan satu bentuk ibadah dengan yang lain, atau untuk membedakan antara ibadah dan adat istiadat. berikut merangkum niat Ramadhan dan bahan bacaan hukumnya:

Niat puasa sepanjang bulan Ramadhan Tujuan membaca puasa Ramadhan adalah untuk menunjukkan keseriusan puasa Ramadhan. Ini pengucapannya:

Karena niat adalah kehendak hati untuk melakukan suatu ibadah, ia bisa diucapkan bersuara maupun hanya dalam hati saja. Para ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah (rukun) ibadah, termasuk puasa. Berarti, dalam melakukan ibadah tidak dianggap sah apabila tidak membaca dan disertai niat sebelumnya.

Cara berpuasa selama sebulan penuh Para ulama dari empat mazhab semuanya percaya bahwa puasa wajib di bulan Ramadhan dimulai dengan niat. Hanya saja mereka tidak setuju dengan aturan niat membaca. Menurut tiga sekolah di luar Malikiyyah, niat ini harus diulang dan diperbarui sehari sekali sebelum puasa. Imam Syafi’i, Malik, Ahmad bin Hambal dan para pengikutnya menyampaikan bahwa niat puasa harus dilakukan pada malam hari, yaitu Antara terbenamnya matahari dan terbitnya subuh. Jika niat itu dieksekusi di luar waktu itu, maka hukum tidak sah. Di saat yang sama, Abu Hanifah dan para pengikutnya menyampaikan bahwa niat puasa dapat diselesaikan mulai dari magrib hingga sore hari. Dengan kata lain, tidak perlu melakukan niat di malam hari.

Kelompok pertama beranggotakan Hanafi, Syafi’i dan Hambali Aima, dan mereka harus memperbarui atau menjalankan niat puasa setiap hari. Mereka berpendapat bahwa hari-hari di bulan Ramadhan adalah hari-hari independen dan tidak ada hubungan satu sama lain. Pembatalan puasa satu hari tidak berpengaruh pada pembatalan hari lain. Oleh karena itu, mereka mengikuti aturan dan mengucapkan niat baru setiap hari. Sebaliknya, kelompok kedua yang terdiri dari Imam Malik dan para pengikutnya tidak perlu mengulang niat tersebut setiap hari. Bagi mereka, tujuan puasa di bulan Ramadhan adalah cukup untuk menyelesaikannya di malam bulan pertama Ramadhan.

Dalam Hasyiyata Qalyubi Wa Umairah Volume 2 halaman 52 disebutkan:

“Pada malam pertama, seseorang berniat untuk berpuasa selama Ramadhan atau seluruh puasa Ramadhan agar dapat memanfaatkan kesempatan untuk bergaul dengan Imam Malik karena khawatir lupa tidak berbuat apa-apa pada suatu malam. Karena menurutnya kata itu. niat ini cukup untuk satu bulan. Pada saat yang sama, menurut pandangan sekolah kami, ini hanya cukup untuk malam pertama. ” (Syihab al din al Qalyubi, 1988: 232)

Menurut mazhab Maliki, karena ide puasa setiap hari sama, sebenarnya tidak ada Fariq (perbedaan titik) antara awal Ramadhan dan puasa satu bulan di hari kedua.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu jenis kegiatan ibadah yang dilakukan pada suatu hari di bulan Ramadhan, jadi seperti puasa.

Adapun Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi, salah seorang pakar fiqih mazhab Malikiyah menegaskan: “Selanjutnya ada niat sekali untuk berpuasa, dan itu harus dilakukan. Imam al-Lakhmi mengatakan bahwa puasa yang harus dilakukan terus menerus, seperti Ramadhan, puasa dihar dua bulan, dan puasa denda A, a. orang yang bersumpah untuk berpuasa pada hari-hari tertentu, dan orang yang bersumpah untuk berpuasa terus menerus pada hari-hari tertentu, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya. ” Berhubung manusia lupa tempat, jika kita lupa mengutarakan niat keseharian kita, rujukan mazhab Maliki bisa menjadi langkah yang baik, karena niat kita diperbarui setiap hari, yang akan menjaga ingatan kita cepat karena Allah SWT.

Bacaan Niat Puasa Selama Satu Bulan Penuh

Puasa Ramadan, mengingat ia adalah salah satu rukun Islam, adalah ibadah yang sangat penting untuk diperhatikan setiap unsur dan syaratnya. Termasuk niat.

Niat puasa ini menjadi pembahasan yang panjang di dalam kajian fiqih lintas madzhab. Terutama mengenai diskursus satu kali niat untuk puasa sebulan penuh.

Menurut kalangan Syafi’iyah, niat puasa untuk sebulan penuh tersebut tidaklah cukup. Meskipun telah niat satu bulan penuh, yang sah nanti hanyalah puasa hari pertama saja. Sementara puasa di hari-hari selanjutnya tetap membutuhkan niat di setiap malamnya.[1]

Sementara, Imam Malik, yang menjadi panutan madzhab Malikiyah, menganggap niat satu bulan penuh sudah cukup untuk menggantikan niat di setiap malamnya. Sebagian ulama Syafi’iyah menganjurkan untuk mengikuti (taqlid) pendapat Imam Malik ini. Mengapa? Agar ketika seseorang lupa tidak niat di malam harinya, puasanya tetap dianggap sah.[2]

Lantas, bagaimana niatnya?

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ كُلِّهِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى

“Saya niat puasa Ramadan satu bulan penuh tahun ini fardlu karena Allah.”

atau membaca niat Puasa Di malam awal Ramadhan seperti bacaan niat dibawah ini :

Inilah Bacaan Niat Puasa Ramadhan Satu Bulan Penuh

Untuk berjaga-jaga agar puasa tetap sah ketika suatu saat lupa niat, sebaiknya pada hari pertama bulan ramadhan berniat taqlid (mengikuti) pada imam Malik yang memperbolehkan niat puasa Ramadhan hanya pada permulaan saja.

Lafadz niatnya sebagai berikut:

نويت صوم جميع شهر رمضان هذه السنة تقليدا للامام مالك فرضا لله تعالى

Dengan adanya cara tersebut bukan berarti membuat kita tidak perlu lagi niat di setiap hari, tapi cukup hanya sebagai jalan keluar ketika benar-benar lupa.

-KH.Ahmad Idris Marzuqi-
-Kitab Sabilul Huda:51-

Niat ini cukup untuk diungkapkan dalam hati saja. Namun, ada kesunnahan untuk mentalaffudzkannya (mengucapkannya dengan keras, minimal terdengar telinga sendiri). Itu sebabnya, ketika seusai jamaah tarawih, imam shalat memimpin para jamaah untuk bersama-sama melafadzkan niat.][

[1] Kasyifah as-Saja, hal. 117.

[2] Hasyiyah I’anah at-Thalibin. Juz 2. Hal. 248. Dar al-Ashashah.

Pos terkait