Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara, Salah 1 Bapak Pendidikan Indonesia

Loading...

Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara – Salah satu bentuk rasa syukur sebagai pemuda Indonesia yang sudah bisa dengan mudahnya menikmati pendidikan adalah dengan memperingati hari Pendidikan Nasional.

Hari tersebut telah disepakati untuk selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei.

Berbicara mengenai sejarah pendidikan di Indonesia, kita tidak bisa melupakan seorang tokoh pentingnya yaitu Ki Hajar Dewantara.

Jika ingin tahu lebih lanjut mengenai tokoh ini, baca sampai selesai yuk!

Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara
Loading...
Biografi Singkat Ki Hajar Dewantara sumber Gambar : komunitasjendela.org
Nama LengkapRaden Mas Soewardi Soerjaningrat
KebangsaanIndonesia
Tempat LahirPakualaman, Yogyakarta
Tanggal Lahir2 Mei 1889
Profesi UtamaAktivis, Politisi, dan Kolumnis.
PrestasiDiangkat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia oleh Presiden Soekarno.Dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara adalah salah satu pahlawan Indonesia yang lahir di Pakualaman, Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 dan merupakan buah hasil dari pasangan Pangeran Soerjaningrat bersama Raden Ayu Sandiah.

Pahlawan Nasional Indonesia

Dikuti dari https://id.wikipedia.org Pahlawan berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu phala-wan yang berarti orang yang dari dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama) adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah beran

Pahlawan nasional diberikan kepada para pejuang yang berjasa kepada Negara Republik Indonesia, berjuang dalam Negara Indonesia, dan merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut data Kementerian Sosial RI, hingga November 2010 tedapat 149 tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

Siapa Kihajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh nasional pendidikan. Ia terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Beliau sendiri lahir di Kota Yogyakarta, pada tanggal 2 Mei 1889, Hari kelahirannya kemudian diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Beliau sendiri terlahir dari keluarga Bangsawan, ia merupakan anak dari GPH Soerjaningrat, yang merupakan cucu dari Pakualam III. Terlahir sebagai bangsawan maka beliau berhak memperoleh pendidikan untuk para kaum bangsawan.
Ki Hajar Dewantara merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.
Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.

Baca Juga : Pahlawan Revolusi Indonesia


Ki Hadjar Dewantara menamatkan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dan kemudian melanjutkan sekolahnya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera) tapi lantaran sakit, sekolahnya tersebut tidak bisa dia selesaikan.


Ki Hadjar Dewantara kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, Ki Hadjar Dewantara dikenal penulis handal. Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya.


Selain bekerja sebagai seorang wartawan muda, Ki Hadjar Dewantara juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan politik. Pada tahun 1908, Ki Hadjar Dewantara aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kemudian, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo yang nantinya akan dikenal sebagai Tiga Serangkai, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka.


Mereka berusaha mendaftarkan organisasi ini untuk memperoleh status badan hukum pada pemerintah kolonial Belanda. Tetapi pemerintah kolonial Belanda melalui Gubernur Jendral Idenburg menolak pendaftaran itu pada tanggal 11 Maret 1913 karena organisasi ini dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalism dan kesatuan rakyat untuk menentang pemerintah kolonial Belanda.


Ki Hadjar Dewantara dipercaya oleh presiden Soekarno untuk menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Melalui jabatannya ini, Ki Hadjar Dewantara semakin leluasa untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun 1957, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan gelar Doktor Honori Klausa dari Universitas Gajah Mada.


Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, tepatnya pada tanggal 28 April 1959 Ki Hadjar Dewantara meninggal dunia di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Kini, nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Pendidikan dan Karier Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara menempuh pendidikan dasarnya di ELS atau Sekolah Dasar Eropa/Belanda.

Ia juga pernah mencicipi pendidikan di STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputera, tetapi tidak menamatkannya karena sakit.

Setelah itu, ia memilih untuk bekerja sebagai wartawan dan penulis di sejumlah surat kabar seperti Midden Java, Sediotomo, Kaoem Moeda, De Expres, Oetoesan Hidia, Poesara, dan Tjahaja Timoer.

Dalam pekerjaannya Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai penulis handal.

Ia bahkan pernah membuat tulisan yang memancing amarah pemerintah Belanda sehingga harus ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka.

Pengasingan ini atas permintaannya sendiri dan kemudian rekan-rekannya yaitu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker memprotes sehingga mereka bertiga yang juga dikenal sebagai Tiga Serangkai harus diasingkan ke Belanda.

Aktivitas Pergerakan Ki Hajar Dewantara

Selain dikenal sebagai penulis handal, Ki Hajar Dewantara juga aktif di berbagai organisasi sosial dan politik.

Pada tahun 1908 atau sejak berdirinya organisasi Budi Utomo, ia juga ikut serta dalam sesi propaganda untuk mengabarkan dan mengetuk kesadaran masyarakat untuk bisa bersatu.

Bahkan saat Kongres Budi Utomo yang pertama, Ki Hajar Dewantaralah yang mengorganisir semuanya.

Selain itu, ia juga merupakan salah satu anggota organisasi Insulinde yang merupakan organisasi multietnik Indonesia dengan tujuan untuk memperjuangkan pemerintah sendiri di Hindia Belanda.

Pengasingan Ki Hajar Dewantara

Pada saat diasingkan di Belanda, Ki Hajar Dewantara aktif dalam organisasi pelajar Indonesia yaitu Indische Vereeniging.

Pada tahun 1913, ia mendirikan Indonesisch Pers-bureau atau Kantor Berita Indonesia.

Dengan ini ia kemudian memperjuangkan cita-citanya untuk memajukan kaum pribumi dalam bidang pendidikan.

Berkat kegigihannya Ki Hajar Dewantara mendapat Europeesche Akta yang merupakan sebuah ijazah pendidikan bergengsi.

Dalam studinya, Ki Hajar Dewantara tertarik dengan ide dari beberapa tokoh pendidikan Barat dan India seperti Montessori, Froebel, keluarga Tagore, dan Santiniketan.

Hal inilah yang menjadi dasar Ki Hajar Dewantara dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Taman Siswa

Pada tahun 1919, Ki Hajar Dewantara kembali ke Indonesia dan kemudian bergabung dalam sekolah yang dibina saudaranya.

Pengalaman belajarnya ini menjadikan Ki Hajar Dewantara bisa lebih mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah diriannya.

Sekolah tersebut berdiri pada tanggal 3 Juli 1922 dan diberi nama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa.

Sekolah ini mempunyai semboyan dalam bahasa Jawa yaitu ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang berarti di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Itulah biografi Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia.

Bagaimana dengan artikel tentang Biografi Ki Hajar Dewantara, kita harus meniru perjuangannya untuk mengukuhkan dan mempersatukan Negara Tercinta Indonesia ini meneruskan perjuangan para Pahlawan Pahlawan Nasional Kita. semoga bermanfaat

Loading...

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *